Minggu, 24 April 2016

Fitnah Hubbuddunya

Dikesempatan waktu nan syahdu baginda Nabi Muhammad SAW. sedang memberi  wejangan dimajlis sahabat-sahabatnya. Aduhai untaian tausiyahnya mengharu biru kalbu, kata-kata pilihannya melelehkan hati-hati yang membatu, argumentasinya yang kokoh kuat  menghantam, meremukkan logika-logika semu, semua tertunduk sayu, semua terdiam kaku. 
Semua meneteskan air mata-air mata yang tadinya beku, kecuali seorang lelaki di pojok masjid. Ia melihat kanan kiri betapa teman-temannya semua terlihat menangis, tetapi dirinya tidak bisa! “Ada apa gerangan dengan mata saya yang begitu bakhil untuk mengeluarkan air mata walaupun satu tetes?!”, gumamnya.  Ia heran, Ia cemas, Ia khawatir dengan dirinya.
Majelis pun selesai, Nabi pun hendak pulang. Tetapi lelaki di pojok tadi langsung menghampiri nabi seraya bertanya, “Ya Rasulallah ada apa dengan saya, ketika orang-orang menangis mendengar  tausyiah baginda, kenapa mata saya bakhil enggan meneteskan air matanya?”. Rasul menatap lelaki itu dengan teduh. Dengan memegang pundaknya seraya bersabda :”Saudaraku, sesungguhnya keringnya air mata karena kerasnya hati, keras hati karena banyak dosa, banyak dosa karena lupa mati, dan lupa mati karena hubbu dunya”. Selanjutnya Rasul memegang dada lelaki itu sambil berkata “Keluarlah wahai musuh Allah! Keluarlah wahai musuh Allah! Keluarlah wahai musuh Allah!”. 
Seketika tertunduklah lelaki itu. Sesuatu yang langka dalam hidupnya terjadi. Butiran-butiran air matanya berjatuhan…. yang akhirnya deras mengalir. ia tersedu memeluk Nabi sambil berucap terima kasih. Ia bahagia tidak terkira bagai Si dahaga  di padang tandus sahara menemukan belaga. Bagai Si pejalan di lorong gulita menemukan cahaya. Lelaki itu pulang sambil terus bergumam, hubbub dunia… hubbu dunia… hubbu dunia…

Dari cerita peristiwa di atas Rasul denga sistematis menyebut runut indikasi-indikasi orang yang sudah terjangkit Hubbud dunia.

1. Keringnya air mata. Air mata tidak sekedar dimaknai dengan butiran-butiran air mata yang keluar dari mata, seperti orang yang kelilipan tapi lebih bermakna dari itu. Di air mata itu berarti ada pengakuan dosa, di air mata itu ada penyesalan, di air mata itu ada harapan. Tidak ada pengakuan, tidak ada penyesalan, tidak ada pengharapan berarti tidak ada air mata. Tidak ada air mata indikasi Hubbu dunia.

2. Keras hati. Hati adalah tempat berkecamuknya berjuta rasa, cinta, sayang, prihatin, cemas, resah gelisah, kesal, marah dan rasa-rasa lainnya. Maka berbicara hati adalah berbicara inti manusia yang sangat penting sampai-sampai Rasul mewanti-wanti pada kita,” Ketauhilah sesungguhnya di dalam jasadmu ada segumpal daging, ketika baik segumpal daging itu maka baik pula jasadmu semua, jika buruk segumpal daging itu mak buruk pula jasadmu semuanya. Ketauhilah itu adalah hati!”.
Jika hati lembut, maka bersemilah tumbuhan kasih saying, empati, simpati, kejernihan, kearifan, ketulusan, kepedulian, lezatnya iman, rindu dan bahagia menebar kebaikan.
Tapi, aduh malang nian yang keras dan kasar hatinya, karena di hatinya tumbuh macam-macam  rasa negatif  hingga tak terkendali timbullah kecemasan, keresahan, kegelisahan, kegersangan, ambisi, gengsi, dan emosi.

3. Banyak dosa.  Imam Al-Ghazali didalam kitab masterpicenya Ihya Ulumuddin menyatakan bahwa setiap dosa yang kita lakukan sebenarnya memberi  bekas noda yang mengotori hati kita ibarat cermin yang terperciki noda-noda hitam yang sedikit demi sedikit menutupi cermin yang akhirnya noda itu menutupi jernihnya cermin itu, meredupkan kemilau pantulan cahaya di cermin itu. Yang akhirnya fungsi cermin pun hilang. Begitulah perbuatan dosa yang terus-menerus dilakukan berualang-ulang walaupun kecil. Ia mengotori hati, menutupi hati, sehingga reduplah hati kita, tumpullah hati kita bahkan matilah hati kita. Sekali lagi, ini karena dosa-dosa.
Untuk seorang muslim sebenarnya tidak ada dosa kecil atau dosa besar, karena ia sadar kepada siap ia berbuat dosa. Dan ketika seseorang terbiasa dengan dosa, sudah happy dengan dosa, tidak merasa berdosa bila melakukan dosa, maka ia telah terindikasi Hubbu dunia.

4. Lupa mati. Indikasi paling pasti untuk orang hubbu dunia adalah ia suka melupakan kematian. Ia melawan ketakutannya kan kematian dengan cara melupakannya. Seperti burung unta di padang pasir yang ketika dikejar pemburu atau pemangsa, ia bukannya menyelamatkan diri dari bahaya tetapi malah meneggelamkan kepala kedalam pasir.

mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang dilembutkan hatinya oleh Allah SWT. dan di jauhkan dari fitnah hubbuddunya.






Saefuddin Abdul Fattah 

2 komentar: