Ketika penduduk thaif yang masih musyrik menolak ajakan Rasulullah SAW untuk masuk Islam, dan mereka menyakiti Rasulullah dengan lemparan batu, kotoran unta dan diludahi. Lalu malaikat Jibril menawarkan kepada Rasulullah untuk ditimpakan kepada mereka dua gunung di Makkah, akan tetapi Rasulullah menolaknya.
Maka Rasulluah SAW dengan penuh kasih sayang bersabda :
“Saya berharap kepada Allah untuk mengeluarkan dari Sulbi-sulbi mereka orang yang beribadah kepada Allah SWT dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.”
Do’a Rasulullah SAW tersebut ternyata terijabah dengan masuk Islamnya anak cucu mereka, begitulah Rasulullah memberikan tuntunan dan contoh demi kebaikan keturunan mereka.
Rasulullah SAW tahu betul menyiapakan generasi-generasi Islam yang tangguh dan militan di kemudian hari. Dari madrasah Rasul inilah Islam bermetamorfosa, bersemai dan bergerak samapi ke-seantero Jazirah Arab dan Eropa. Proses tarbiyah yang dilakukan dengan ke-ikhlasan dan kesabaran ternyata menghasilkan generasi pertama yang tangguh dan militan. Mereka adalah para jundullah yang tak tertandingi sampai akhir zaman. Adalah rumah Arqam bin Abil Arqam proses tarbiyah itu dimulai , dengan segala keterbatasan dan kesederhanaan, Rasulullah SAW mampu merajut dan mempersatukan hati-hati para sahabat untuk wala’ dan bara’ terhadap Allah, Rasul, dan Dinul Islam wal muslimun. Ternyata, kesederhaan, kekurangan, bahkan intimidasi tidak mematahkan semangat, dan militansi para sahabat untuk istiqamah memeperjuangkan minhajul hayat sampai titik darah penghabisan. Malah, milltansi itu terus bersamai, mengakar, menggelayuti hati-hati para sahabat, dan menghasilkan ruhul jihad yang luar biasa. Tak pelak Generasi pertama adalah model dan uswah generasi rabbani sepanjang sejarah Islam.
Berbeda sangat jauh sekali generasi muda pada saat ini, para pemuda negeri tercinta kita ini lebih seperti terhipnotis oleh budaya-buda barat yang mengekedepankan kebebasan, dan ironinya pemuda yang mendominasi di negara Indonesia tercinta ini adalah para pemuda Islam yang seharusnya menjaga kehormatan agamanya yang telah diwariskan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya kepada mereka. Kita dapat perhatikan tidak sedikit di negara kita ini yang konon katanya “perempuan islam” tapi berbangga-bangga dalam mengumbar auratnya, yang konon katanya “Lelaki tulen” tapi berpakaian dan berdandan seperti wanita, yang katanya mereka adalah pemuda yang memiliki nama-nama islami seperti saifullah syarif, amar solihin dan nama-nama islami lainnya tetapi terdengar kabar bahwa mereka mati bersamaan ketika sedang berpesta miras oplosan, yang seharusnya para pemuda memakmurkan masjid dengan tidak melewatkan sholat berjama’ah dan tilawah Al-Quran, namun kita perhatikan para pemuda itu tenyata malah meramaikan dunia Game Online dengan mereka memakmurkan warnet. Na’udzubilla tsumma na’udzubillah, ini adalah tamparan bagi kita para orang tua yang diberi Amanah oleh Allah Ta’ala dengan kita dikaruniai putra-putri kita, sudah selayaknya kita berikan pendidikan yang berkualitas kepada anak-anak kita tercinta.

Sejatinya, ini menjadi perhatian yang serius bagi umat Islam jika ingin menyaksikan Islam kembali menggeliat dikemudian hari. Syekh Mustafa Al-Ghulayani dalam sebait syairnya pernah mengatakan,’’ pemuda adalah tulang punggung suatu Negara, ditangan merekalah kelak jatuh dan bangunnya sebuah Negara.” OLeh karenanya, menjadi sebuah perhatian yang termat serius bagi umat Islam pada umumnya dan orang tua Islam pada khususnya untuk benar-benar menyiapkan generasi Islam yang tangguh, berakhlak karimah, serta akrab dengan sekian shirah para Nabi dan generasi-generasi terdahulu.
Hal ini tentu harus dimulai dari sejak dini. Melahirkan generasi Islam yang tangguh, kuat serta bermoral mulia tidak bisa dilakukan secara instan ataupun taken for granted, namun butuh proses panjang dan sistematis. Dan hal itu harus dimulai sejak usia dini. Rasulullah SAW bersabda”
” Setiap Anak dilahirkan dalam keadaan fithrah. Kedua orang tuanya yang menjadikannya sebagai Yahudi, Nashrani aau Majusi.” (HR. Al-Bukhari, 1/1292).
Sehingga dalam hal ini peran orang tua menjadi sangat penting dalam hal mendidik serta membina anak-anaknya. Imam AL-Ghazali ra berkata,’’ ketauhilah sesungguhnya metode pendidikan anak merupkan sesuatu yang paling penting dan wajib karena anak adalah amanah bagi orang tuanya. Hatinya yang suci merupakan permata yang paling berharga bila dibiasakan dengan diajarkan kebaikan maka ia akan tumbuh diatasnya, dan akan berbahagia di dunia dan di akhirat. Sebaliknya, bila dibiasakan dengan kejelekan dan dibesarkan seperi binatang akan sengsara dan binasa (Imam Al-Ghazali, dalam kitabnya Ihya Ulumuddin, 3/62)
Menelisik hal tersebut diatas, menjadi sebuah kewajiban bagi umat Islam secara keseluruhan dan orang-orang tua Muslim untuk menjaga, membina dan merajut generasi Islam agar menjadi generasi Islam yang tangguh, kuat dan berjiwa militan dimasa depan dan inilah yang kita sebut sebagai generasi rabbani. Sebuah generasi yang mereka cinta kepada Allah dan Allah cinta kepada mereka.
Generasi rabbani merupakan generasi yang kita cita-citakan, generasi Rabbani merupakan generasi impian, generasi rabbani adalah generasi harapan umat dan bangsa ini, sebuah generasi yang lahir dari rahim umat Islam, yang tunduk dan patuh kepada aturan – aturan Allah, mereka saling mencintai karena Allah, belajar dan mengajar tentang yang hak, saling nasehat menasehati dalam kebaikan dan kesabaran.
’’ Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, niscaya dia akan memberikan furqan dan menghapuskan segala (kesalahan-kesalahan)-mu dan mengampuni (dosa-dosa)-mu, dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (Al-Anfal : 29).
Pembentukan generasi rabbani yang dicita-citakan menjadi teramat serius di tegah – tengah kondisi umat Islam yang semakin terpuruk baik akidah dan moralnya. Sehingga di perlukan upaya-upaya serius pula untuk mencari solusi yang bernas dan ampuh untuk benar – benar melahirkan generasi idaman tersebut.
Belajar dari Mujahid Islam Luqman Al-Hakim ketika berwasiat kepada Anak-anaknya, insya Allah dapat menjadi contoh dan risalah tarbawi dalam menyipakan generasi rabbani yang kita cita-citakan. Adapaun wasiat beliau seperti terurai dalam BuKu CARA NABI MENYIAPKAN GENERASI yang ditulis oleh Jamal Abdurrahman.
Wasiat pertama,
” Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada Anaknya ketika ia memberi pelajaran kepadanya,’’ Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezhaliman yang besar.”(QS. Luqman : 13)
Ibn katsir ra. dalam tafsirnya berkata,’’ ia berwasiat pada anaknya, yaitu orang yang paling dia rindukan dan paling dia cinta. dan tepat kalau ia mewasiatkan agar beribadah kepada Allah SWT dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun. Jelas bahwa yang paling fundamen yang harus dilakukan untuk merajut generasi rabbani adalah mempersiapkan bekal keimanan yang kokoh, memiliki identitas ke-Isaman yang jelas serta merasakan betapa tidak ada kekuatan lain selain Allah Azza Wajalla. Sehingga pada gilirannya akan memunculkan sebuah totalitas keber-Islaman. Kemudian, Ayat tersebut juga serangkai dengan perintah untuk berbakti kepada kedua orang tua,
’’ Dan rabbmu telah memerintahkan supaya kamu menyembah selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada Ibu Bapakmu dengan sebaik-baiknya,’’ (QS. Al-Isra:23).
Hal tersebut mengindikasikan bahwa perintah untuk taat kepada Allah harus diiringi dengan ketaatan kepada kedua orang tua.
Wasiat kedua,
’’ Luqman berkata,’’ Hai anakku, sesungguhnya jika ada sesuatu perbuatan seberat sawi dan berada dalam batu atau dilangit atau didalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasnya) sesungguhnya Allah maha halus lagi maha mengetahui,’’ (QS. Luqman:16)
Ibn Katsir berkata,’’ Sekalipun perbuatan tersebut seberat biji sawi, tersembunyi dan tertutup di dalam batu besar, atau di dalam hutan belantara dikolong langit dan bumi, maka sesungguhnya Allah akan mendatangkan balasannya karena bagi Allah tidak ada yang tersembunyi dari padanya seberat apa pun baik yang ada dilangit ataupun yang ada di bumi.
Wasiat Ketiga.
” Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah manusai menegerjakan yang baik dan cegahlah mereka dari perbuatan yang munkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang dinginkan oleh Allah.’’(QS.Luqman:17)
Ibn Katsir berkata,’’ dirikanlah shalat yaitu semua ketentuannya, kewajibannya dan waktunya mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari kemunkaran sebatas kemampuan dan usahamu, karena mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran pasti mengalami banyak tantangan dan hambatan dari orang lain, sehingga diperintahkan untuk bersabar.
Wasiat keempat
” Dan janganlah memalingkan mukamu dari manusai (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan dimuka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang – orang yang sombong lagi membanggakan diri.’’ (QS. Luqman : 18)
Ibn katsir berkata, ’’janganlah sombong sehingga menghina hamba-hamba Allah dan memalingkan mukamu dari mereka ketika mereka berbicara dengan anda. Dalam hadits disebutkan ,’’ Setiap orang yang memalingkan mukanya adalah dilaknat,’’( An-Nihayah, Ibn Katsir, bab Sha’ra)
Wasiat kelima
” dan sederhanakanlah kamu dalam berjalanm dan lunakanlah suaramu, sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai,’’ (QS. Luqman : 19)
Al-Qurthubi ra berkata,’’ ketika Luqman telah melarang anaknya dari Akhlak tercela, maka ia menjelaskan Akhlak mulia yang selayaknya dipraktekkan,’’ dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan, artinya pertengahan.’’
Rasulullah SAW bersabda,’’ Dan lunakanlah suaramu,’’ Al-Qurthubi berkata, maksudnya kurangilah volumenya, jangan memaksa suara, ambil volume suara seperlunya saja karena keras melebihi yang dibutukan akan memaksa dan menganggu.’’ Maksudnya harus senantiasa tawadhu dalam kehidupan ini.
” hai orang – orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu,’’ (QS. At-tahrim : 6)
Wasiat Al Mujahid Luqman Al-hakim dapat menjadi resep mujarab untuk kembali menggelorakan umat Islam untuk merajut generasi rabbani yang kita cita – citakan, insya Allah kita akan mampu menorehkan sejarah 14 Abad silam terulang kembali.
Dengan sebuah keyakinan dan usaha yang maksimal cita –cita mewjudkan generasi rabbani bukanlah impian di siang bolong. Namun, merupakan kenyataan yang insya Allah ta’ala tertorehkan kembali.
Amin ya rabbal Alamin